Tampilkan postingan dengan label Agroindustry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agroindustry. Tampilkan semua postingan

KURVA PERTUMBUHAN MIKROBA

Posted: Senin, 06 Februari 2012 by Hazirur Rohman in Label: ,
2


Pertumbuhan mikroba umumnya memiliki 4 fase, yaitu fase lag (adaptasi/penyesuaian), fase eksponensial (logaritmik), fase stasioner dan yang terakhir fase kematian.

1. Fase Lag

Pada fase ini perubahan bentuk dan pertumbuhan jumlah individu tak secara nyata terlihat. Karena fase ini dapat juga dinamakan sebagai fase adaptasi (penyesuaian). maka dari itu apabila dilihat pada kurva pertumbuhan mikroba, grafik selama fase ini umumnya mendatar. Ini disebabkan tidak atau belum adanya sumber nutrien untuk makanan mikroba.

2. Fase Eksponensial atau Logaritmik

Setelah setiap individu mengalami penyesuaian diri dengan lingkungan baru selama fase lag, maka mulailah mengadakan perubahan bentuk dan meningkatkan jumlah sel sehingga apabila dilihat dalam kurva akan tampak meningkat dengan tajam. Namun peningkatan ini harus diimbangi dengan beberapa faktor, diantaranya adanya kandungan sumber nutrien sebagai bahan makanan pada mikroba tersebut. Apabila tidak ada kandungan sumber nutrien maka mikroba tidak akan berkembang biak dan kurva juga tidak akan menunjukkan peningkatan.

3. Fase Stasioner

Yaitu mengalami pengurangan sumber nutrien. Artinya, sumber nutrien yang ada untuk mikrobia mengalami kehabisan atau tidak ada yang menambahi sehingga mikrobia tidak bisa melakukan pertumbuhan namun juga tidak secara langsung mengalami kematian. Maka dari itu kurva grafik mendatar, artinya tidak naik karena tidak adanya pertumbuhan dan tidak turun karena tidak secara langsung mengalami kematian.

4. Fase Kematian

Grafik menunjukkan penurunan secara tajam karena merupakan akhir dari suatu jumlah individu yang kembali ke titik awal. Ini disebabkan mikrobia sudah tidak mampu bertahan hidup selama stasioner (yang tidak mendapatkan sumber nutrien).

Membran

Posted: Kamis, 02 Februari 2012 by Hazirur Rohman in Label: ,
0



Membran adalah selaput semi permeabel yang melewatkan spesi tertentu dan menahan spesi yang lain berdasarkan pada ukuran spesi yang akan dipisahkan. Spesi yang memiliki ukuran besar akan tertahan dan yang berukuran lebih kecil akan dilewatkan (Mulder, 1996). Menurut Osada dan Nakagawa (1992), membran adalah selaput semi permeabel berupa lapisan tipis yang memisahkan dua fase dengan cara menahan komponen dan melewatkan komponen yang lain.

Prinsip operasi pemisahan menggunakan membran adalah memisahkan bagian tertentu dari umpan menjadi retentat dan permeat. Retentat merupakan bagian yang ditahan oleh membran, sedangkan permeat adalah bagian yang dilewatkan oleh membran.

Menurut Mulder (1996) dan Wenten (1999), membran dapat diklasifikasikan berdasarkan keberadaan, morfologi, fungsi dan bentuk. Berdasarkan keberadaannya membran dibagi menjadi dua golongan yaitu :
(1) Membran alamiah yang terdapat di dalam jaringan tubuh organisme
(2) Membran sintetik yaitu membran yang dibuat secara sengaja untuk kebutuhan dan disesuaikan dengan sifat membran alamiah.

Berdasarkan morfologinya, membran dibagi menjadi dua golongan yaitu membran asimetrik dan simetrik. Membran asimetrik mempunyai struktur pori yang tidak seragam sedangkan membran simetrik mempunyai struktur pori yang seragan. Beradasarkan fungsinya, membran dibagi menjadi membran mikrofiltrasi untuk menyaring molekul lebih dari 500.000 g/mol, membran ultrafiltrasi untuk menyaring makromolekul lebih dari 5000 g/mol, membran osmosa balik untuk menyaring garam-garam organik lebih dari 50 g/mol, membran dialisa untuk memisahkan larutan koloid yang mengandung elektrolit dengan BM kecil dan membran elektrodiosa untuk memisahkan larutan dengan membran melalui pemberian muatan listrik.

Membran beradasarkan bentuknya dibagi menjadi dua golongan yaitu membran datar dan membran tubular. Membran datar dibagi menjadi tiga macam yaitu membran datar yang terdiri dari satu lembar, membran datar bersusun dan membran spiral bergulung. Membran tubular dibagi menjadi tiga macam yaitu membran serat berongga, membran kapiler dan membran tubular.

Daftar Pustaka :
Osada, Y dan Nakagawa T. 1992. Membran Science and Technology. Marcel Dekker. Inc, New York.
Mulder, M. 1996. Basic Principles of Membran Technology. Kluwer Academic Publisher, Netherland.
Wenten, I.G. 1999. Teknologi Membran Industrial. Teknik Kimia ITB, Bandung

JADWAL UTS SEMESTER 7

Posted: Rabu, 12 Oktober 2011 by Hazirur Rohman in Label:
0





SEMANGATT..

Pemanfaatan Ampas Tebu sebagai Bahan Baku Pembuatan Papan Partikel

Posted: Rabu, 27 Juli 2011 by Hazirur Rohman in Label:
3

Papan partikel adalah salah satu jenis produk komposit atau panel kayu yang terbuat dari partikel-patikel kayu atau bahan-bahan berlignoselulosa lainnya yang diikat dengan perekat atau bahan pengikat lain kemudian dipres. Bahan baku utama pembuatan papan partikel menurut Walker (1993) yaitu :
- Sisa industri seperti sebuk gergaji, pasahan, dan potongan-potongan kayu
- Sisa pengambilan kayu, penjarangan, dan jenis buka komersil
- Bahan material berlignoselulosa bukan kayu seperti rami, ampas tebu, bambu, tandan kelapa sawit, serat nenas, eceng gondok dan lain-lain.

Ampas tebu atau bagasse berdasarkan komposisi kimianya mengandung lignoselulosa yang cukup tinggi. Lignoselulosa ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif pengganti kayu dalam pembuatan papan partikel. Panjang serat ampas tebu antara 1,7 sampai 2 mm dengan diameter sekitar 20 mikro, sehingga ampas tebu ini dapat memenuhi persyaratan untuk diolah menjadi papan-papan buatan. Ampas tebu mengandung air 48-52%, gula rata-rata 3,3% dan serat rata-rata 47,7%.

Papan partikel dari ampas tebu dibuat dengan cara pengeringan, penggilingan, dan penyaringan ampas, pencampuran ampas dengan perekat, resin dan parafin wax serta pencetakan. Perlakuan perendaman penting dilakukan karena ampas tebu masih mengandung gula atau zat ekstraktif lainnya yang dapat mengurangi keteguhan rekat karen adapat menghalangi perekat untuk bereaksi dengan komponen dalam dinding sel dari kayu seperti selulosa. Makin banyak zat ekstraktif dalam suatu kayu maka makin banyak pula pengaruhnya terhadap keteguhan rekat, selain itu juga dapat menyebabkan terjadinya blowing atau deliminasi pada proses pengempaan. Salah satu cara untuk mengurangi zat ekstraktif ini adalah dengan cara perendaman. Setelah direndam, ampas tebu kemudian dikeringkan.

Pada proses pencampuran, ampas tebu yang telah dikeringkan dimasukkan ke dalam blender drum. Kemudian ditambahkan perekat dan parafin dengan menggunakan mixer. Parafin ditambahkan pada campuran untuk meningkatkan sifat papan komposit yang dihasilkan. Campuran selanjutnya dimasukkan kedalam alat pencetak lembaran yang berukuran 25cm x 25cm x 1cm dan ditekan supaya adonan menjadi padat , selanjutnya dilapisi dengan aluminium foil. Campuran yang telah terbentuk kemudian diletakkan di atas lempeng aluminium yang dilapisi aluminium foil dan bagian atas juga dilapisi aluminium foil dan lempengan aluminium yang sama. Bagian sisi campuran diganjal dengan plat besi dengah ukuran ketebalan 1 cm. Campuran ini kemudian dikempa dengan menggunakan kempa panas pada suhu 140oC selama 10 menit dengan tekanan 25 kg/cm2.

Lembaran yang sangat panas dikeluarkan dari mesin kempa dan dibiarkan sekitar 3 jam agar terjadi pengerasan perekat sebelum dikeluarkan dari klem. Selanjutnya dilakukan pengkondisian selama satu minggu untuk mencapai distribusi kadar air yang seragam dan melepaskan tegangan sisa dalam papan akibat pengempaan.

Pembuatan Lilin Aromaterapi

Posted: Senin, 30 Mei 2011 by Hazirur Rohman in Label:
0


Lilin aromaterapi adalah salah satu bentuk diversifikasi dari produk lilin yaitu aplikasi lain dari cara inhalasi atau penghirupan aromaterapi. Aroma yang muncul pada saat lilin dibakar akan memberikan rasa tenang, rileks, dan nyaman. Fungsi ganda yang dimiliki ini sebagai produk yang diharapkan dapat diminati dan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.

Pembuatan lilin aromaterapi membutuhkan stearin, parafin, dan miyak atsiri.
Stearin terdapat dalam lemak nabati atau hewani. Stearin juga dapat dibuat dengan cara mereaksikan asam stearat dengan gliserol pada kondisi tertentu. Stearin memiliki slip melting point pada kisaran 460 – 560C. Stearin merupakan gliserida yang memiliki titik cair tinggi karena mengandung asam palmitat dan asam stearat dalam jumlah tinggi. Kandungan ini menyebabkan stearin berada pada kondisi pasta-padat di suhu kamar.

Parafin merupakan suatu hidrokarbon yang bentuknya dapat berupa gas tidak berwarna, cairan putih, atau bentuk padat dengan titik cari rendah. Umumnya parafin terkandung dalam minyak bumi, yang struktur molekulnya terdiri dari normal parafin yaitu normal oktadekana, normal heksaoktana, iso-parafin, sedikit siklo-parafin dari senyawaan aromatik. Parafin yang diperdagangkan dibedakan berdasarkan besar konsentrasi minyaknya. Mutu satu dengan lainnya harus memiliki jarak titik cair sebesar 20F. parafin terdiri dari tiga jenis, yaitu soft paraffin wax (300 – 420C), medium paraffin wax (440 – 460C), dan hard paraffin wax (500 – 650C).

Pada pembuatan lilin, stearin perlu dipanaskan. Tujuan dilakukannya pemanasan pada stearin pada pembuatan lilin aromaterapi adalah untuk mencairkan stearin yang semula berwujud padat pada titik lelehnya yaitu sekitar 69,60C. Fungsi dari stearin ini adalah untuk memberi bentuk pada lilin yang dibuat, karena stearin akan menjadi padat setelah dingin. Sebelum stearin memadat, terlebih dahulu ditambah parafin dan pewarna. Fungsi parafin adalah sebagai bahan bakar untuk lilin agar dapat terbakar. Selain itu tujuan pencampuran antara parafin dan stearin ialah agar parafin yang dimasukkan dapat keras karena sifat dasar dari paraffin ialah cenderung lembek dan lentur pada temperatur dibawah titik leburnya, maka digabungkan dengan stearin. Bersama stearin, parafin menjadi bahan dasar lilin batangan. Penambahan selanjutnya ialah penambahan zat fiksatif yaitu minyak nilam dan minyak melati.

Makalah Kopi : Pengolahan Buah Kopi

Posted: Senin, 23 Mei 2011 by Hazirur Rohman in Label:
0


Proses pengolahan buah kopi dilakukan melalui dua cara, yaitu cara basah dan kering.
Pengolahan basah atau West Indesche Bereiding, dipakai di Indonesia ini semenjak kopi Robusta berkembang. Karena sebelum itu untuk jenis kopi Arabika hanyalah dipergunakan pengolahan kering. Cara ini disebut pengolahan basah karena prosesnya banyak menggunakan air. Pengolahan basah hanya digunakan untuk mengolah kopi sehat yang berwarna merah, sedangkan kopi berwarna hijau dan terserang bubuk diolah secara kering.

Pengolahan basah dilakukan melalui tujuh tahap, yaitu tahap sortasi gelondong, pulping, fermentasi, pencucian, pengeringan, hulling, dan sortasi biji.

sortasi gelondong dimaksudkan untuk memisahkan kopi merah yang berbiji dan sehat dengan kopi hampa dan terserang bubuk. Pemisahan dari buah-buah masak yang baik dan yang buruk dilakukan dengan air. Yang baik tenggelam dalam air, sedangkan yang hampa akan mengapung, sehingga mereka dapat dipisahkan dengan mudah .Pulping bertujuan untuk memisahkan biji dari kulit buah sehingga diperoleh biji kopi yang masih terbungkus kulit tanduk. Prinsip kerjanya adalah melepaskan eksocarp dan meksocarp buah kopi dimana prosesnya dilakukan dilakukan didalam air mengalir. Proses ini menghasilkan kopi hijau kering dengan jenis yang berbeda-beda. Pemisahan kulit ini menggunakan mesin pulper.

Proses fermentasi bertujuan untuk melepaskan daging buah berlendir (mucilage) yang masih melekat pada kulit tanduk dan pada proses pencucian akan mudah terlepas (terpisah) sehingga mempermudah proses pengeringan. Hidrolisis pektin disebabkan, oleh pektinase yang terdapat didalam buah atau reaksinya bisa dipercepat dengan bantuan jasad renik(Saccharomyces) yang disebut dengan proses peragian dan pemeraman. Proses fermentasi akan berlangsung selama lebih kurang dari 1,5 sampai 4,5 hari tergantung pada keadaan iklim dan daerahnya. Proses fermentasi yang terlalu lama akan menghasilkan kopi beras yang berbau apek disebabkan oleh terjadinya pemecahan komponen isi putih lembaga.

Pencucian bertujuan untuk menghilangkan seluruh lapisan lendir dari kotoran lainnya yang masih tertinggal setelah difermentasi atau setelah keluar dari mesin raungpulper. Pencucian secara sederhana dilakukan pada bak memanjang dengan air mengalir. Bila sudah bersih dan tidak licin, kopi diangkat dari bak dan ditiriskan. Kopi yang sudah selesai dicuci mengandung air sekitar 53-55%. Pengeringan bertujuan untuk menurunkan kadar air menjadi 8-10%. Dengan demikian, kopi tidak mudah terserang cendawan dan tidak mudah pecah ketika dihulling. Pengeringan bisa dilakukan dengan tiga cara, yaitu cara alami, buatan dan kombinasi keduanya.

Hulling bertujuan untuk memisahkan biji kopi yang sudah kering dari
kulit tanduk dan kulit ari. Pemisahan dilakukan dengan mesinhuller yang mempunyai bermacam-macam tipe. Didalam mesin huller, maka biji kopi itu dihimpit dan diremas, dengan demikian kulit tanduk dan kulit arinya akan terlepas. Pecahan kulit tanduk dan kulit ari setelah keluar dari mesin huller tertiup dan terpisah dari biji kopi beras yang akan berjatuhan kebawah dan masuk ke dalam wadah. Hulling yang dilakukan petani biasanya dengan menumbuk seperti halnya menumbuk padi.

Pengolahan secara kering sangat cocok untuk lahan yang tidak terlalu luas, karena alatnya sederhana dan biaya investasi rendah. Pengolahan secara kering terutama ditujukan untuk kopi robusta karena tanpa fermentasi sudah diperoleh mutu yang cukup baik. Sedangkan untuk kopi arabika, sedapat mungkin diolah secara basah karena diperlukan fermentasi untuk mendapatkan mutu kopi yang baik. Pengolahan secara kering dilakukan beberapa tahap, yaitu sortasi gelondong, pengeringan dan pengupasan. Sortasi gelondong sudah mulai dilakukan sejak pemetikan tetapi harus diulangi lagi pada waktu pengolahan. Sortasi pada awal pengolahan dilakukan setelah kopi datang dari kebun. Kopi yang berwarna hijau, hampa, dan terserang bubuk disatukan. Sementara kopi yang berwarna merah dipisahkan karena akan menghasilkan kopi yang bermutu baik. Pada pengolhan secara kering Kopi yang sudah dipeik dan disortasi harus segera dikeringkan agar tidak mengalami proses kimia yang dapat menyebabkan penurunan mutu. Cara pengeringan ini hampir sama dengan pengeringan biji kopi pada pengolahan basah. Pengeringan buah kopi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: pengeringan alami dengan bantuan sinar matahari dan pengeringan buatan dengan menguunakan mesin pengering. Setelah kering dilakukan pengupasan, sortasi biji kering, pengemasan, dan penyimpanan biji kopi.

Enfleurasi Minyak Atsiri

Posted: Jumat, 06 Mei 2011 by Hazirur Rohman in Label:
1

Minyak atsiri merupakan salah satu jenis minyak nabati yang multi manfaat. Bahan baku minyak ini diperoleh dari berbagai bagian tanaman seperti daun, bunga, biji, buah, kulit biji, batang, akar, atau rimpang. Pada umumnya bunga setelah dipetik akan tetap hidup secara fisiologis. Daun bunga terus menjalankan proses hidupnya dan tetap memproduksi minyak atsiri dan minyak yang terbentuk dalam bunga akan menguap dalam waktu singkat. Khusus untuk minyak atsiri yang diperoleh dari bunga, maka dalam proses pengambilan minyaknya bisa digunakan dengan metode enfleurasi. Pada proses ini, absorbsi minyak atsiri oleh lemak dilakukan pada suhu rendah (keadaan dingin) sehingga minyak terhindar dari kerusakan yang disebabkan oleh panas.

Shortening adalah komponen utama untuk media enfleurasi adalah mentega putih atau shortening, lemak, dan lilin. Shortening adalah lemak padat yang mempunyai sifat plastis dengan kestabilan tertentu, umumnya berwarna putih dan sering disebut mentega putih. Bahan ini diperoleh dari hasil pencampuran dua atau lebih lemak atau dengan cara hidrogenasi.

Sifat fisik shortening didasarkan atas nilai shortening dansifat plastisnya. Nilai shortening adalah kemampuan mentega putih untuk melumas dan mengempukkan bahan pangan yang tergantung dari derajat plastisnya. Sifat plastis tergantung dari perbandingan jumlah lemak padat dan lemak cair dan sifat-sifat krislat lemak. Sebagian besar mentega putih dibuat dari minyak nabati seperti minyak biji kapas, minyak kacang kedelai, dan minyak kacang tanah. Lemak atau mentega putih dikatakan bersifat plastis jika berwujud padat dan tidak meleleh pada suhu kamar, dapat membentuk dispersi dan menyebar menjadi cairan kental oleh kenaikan suhu atau karena tekanan mekanis yang cukup rendah (Ketaren, 1985).

Enfleurasi merupakan metode pengambilan (ekstraksi) minyak atsiri dengan bantuan lemak dingin sebagai adsorbennya. Caranya adalah lemak dingin yang telah disiapkan dilumurkan secara merata kedalam chassis –tempat lemak, yang berbentuk persegi empat. Setelah itu, kelopak bunga mawar yang telah disiapkan ditaburkan diatas lemak untuk selanjutnya disimpan selama 24 jam. Setelah 24 jam, kelopak bunga mawar yang telah jenuh tersebut diganti dengan kelopak bunga mawar yang baru. Lakukan proses tersebut selama beberapa kali sehingga akan menghasilkan pomade. Jika kelopak bunga mawar telah disebar sebanyak 10 kali, maka pomade yang dihasilkan disebut pomade 10. Pomade selanjutnya diekstrak dengan alkohol yang berkonsentrasi tinggi, alkohol akan melarutkan minyak bunga yang ada dalam pomade. Alkohol yang telah dipakai mengekstraksi minyak bunga dari lemak disebut ekstrait. Kemudian dilakukan penyulingan dalam keadaan vakum dan suhu yang rendah sehingga akan dihasilkan minyak bebas dari alkohol yang disebut enfeurasi absolut.

Hasil penelitian menyatakan, bahwa kelopak bunga (mawar) yang telah dipakai untuk proses enfleurasi masih mengandung minyak yang tidak dapat diserap oleh lemak (Guenther, 1987). Minyak bunga atau minyak atsiri bunga tidak hanya mengandung minyak yang mudah menguap, tetapi juga mengandung persenyawaan bertitik didih tinggi, dan tidak segera dibebaskan oleh bunga. Zat ini merupakan hasil proses fisiologi yang kompleks yang belum dapat diterangkan secara mendetail.
Fraksi minyak bunga yang masih tertahan dalam daun bunga mawar yang telah dikeluarkan dari chassis dapat diekstrak dengan pelarut mudah menguap, seperti petroleum eter. Hasil ekstraksi merupakan massa padat. Massa yang padat tersebut mengandung sejumlah lemak yang berasal dari bunga mawar selama proses enfleurasi. Lemak ini kemudian dipisahkan dengan melarutkannya dalam alkohol pada suhu rendah. Hasil akhirnya disebut chassis absolut yang berupa pasta, dan terdiri dari campuran minyak bunga dan alkohol, serta baunya berbeda dengan enfleurasi absolut.

Enfleurasi absolut dan chassis absolut pada dasarnya satu sama lain adalah pelengkap, sebab masing-masing merupakan minyak yang dihasilkan dari satu bunga yang sama, yaitu bunga mawar. Untuk pemasarannya, kedua minyak ini dijual secara terpisah karena harga chassis absolut lebih rendah dibanding dengan harga enfleurasi absolut. Tapi walaupun begitu setidaknya sisa proses enfleurasi ini (kelopak bunga mawar) dapat dijual sehingga meningkatkan nilai tambahnya daripada langsung dibuang dan hanya menjadi limbah yang dapat merusak lingkungan. Chassis absolut memberikan hasil terbaik dalam campuran parfum, khususnya dalam campurannya dengan zat aromatik sintesis (Guenther, 1987).

Prinsip kerja enfleurasi cukup sederhana. Jenis bunga tertentu (sedap malam dan melati misalnya) setelah dipetik, masih meneruskan aktivitas fisiologisnya, sehingga memproduksi minyak dan mengeluarkan bau wangi. Lemak mempunyai daya absorpsi tinggi dan jika dicampur kemudian kontak dengan bunga yang berbau wangi, maka minyak akan mengabsorpsi minyak yang dikeluarkan bunga tersebut. Pada proses ini bunga dijaga agar bunga tetap hidup dengan cara memberikan O2 secukupnya agar minyak atsiri yang dikandung dapat diabsorpsi pada suhu ruang (25-300) (Guenther, 1987).

Keberhasilan proses enfleurasi tergantung pada kualitas lemak yang digunakan dan ketelitian serta keterampilan dalam mepersiapkan lemak. Lemak yang digunakan tidak boleh berbau, tidak berwarna, tidak mengandung asam lemak bebas, dan memiliki konsistensi tertentu. Jika lemak terlalu keras, maka kontak antara bunga dan lemak relatif sulit sehingga mengurangi daya absorpsi dan rendemen minyak bunga yang dihasilkan. Sebaliknya jika lemak terlalu lunak, maka bunga yang disebarkan pada permukaan lemak akan masuk ke dalam lemak, sehingga bunga yang layu dan lemak yang melekat pada bunga sulit dipisahkan; dan hal ini dapat mengakibatkan penyusutan berat lemak yang digunakan (Guenther, 1987).

Daftar Pustaka
Guenther E. 1987. Minyak Atsiri Jilid I. Terjemahan S. Ketaren. UI Press, Jakarta.
Ketaren, S. 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Balai Pustaka, Jakarta.

BIOETANOL

Posted: Sabtu, 23 April 2011 by Hazirur Rohman in Label:
0


Bioetanol merupakan salah satu jenis biofuel (bahan bakar cair dari pengolahan tumbuhan) di samping Biodiesel. Bioetanol adalah etanol yang dihasilkan dari fermentasi glukosa (gula) yang dilanjutkan dengan proses destilasi. Proses destilasi dapat menghasilkan etanol dengan kadar 95% volume, untuk digunakan sebagai bahan bakar (biofuel) perlu lebih dimurnikan lagi hingga mencapai 99% yang lazim disebut fuel grade ethanol (FGE). Bahan baku pembuatan bioetanol diantaranya:
1. Nira bergula (sukrosa): nira tebu, nira nipah, nira sorgum manis, nira kelapa, nira aren, nira siwalan, sari-buah mete, molases.
2. Bahan berpati: tepung-tepung sorgum biji (jagung cantel), sagu, singkong/gaplek, ubi jalar, ganyong, garut, umbi dahlia.
3. Bahan berselulosa (Þ lignoselulosa): kayu, jerami, batang pisang, bagas, dll.

Fungsi etanol sebagai campuran bahan bakar kendaraan memiliki prospek bagus karena karena makin tingginya harga minyak mentah. Etanol ini berfungsi sebagai penambah volume BBM sebagai peningkat angka oktan, dan sebagai sumber oksigen untuk pembakaran yang lebih bersih pengganti (MTBE). Karena etanol mengandung 35% oksigen ia dapat meningkatkan efisiensi pembakaran.Etanol juga ramah lingkungan karena emisi gas buangnya rendah kadar CO, NO, dan gas-gas rumah kaca yang menyebabkan polutan. Etanol juga mudah terurai dan aman karena tidak mencemari air. Jika dibandingkan dengan BBM gas buang dari etanol merupakan senyawa yang bermanfaat bagi tanaman jalan. misalnya, CO2, ini berbeda dengan bensin yang gas buangnya mengandung gas CO yang sangat jelas merugikan kesehatan mahluk hidup.

MIXING

Posted: Senin, 07 Juni 2010 by Hazirur Rohman in Label:
0


Mixer merupakan salah satu alat pencampur sehingga akan menghasilkan suatu dispersi yang seragam atau homogen. Mixer atau pencampur juga dapat digunakan untuk pencampur bahan-bahan plastik.

Mixing adalah suatu proses pencampuran bahan sehingga dapat bergabung menjadi suatu campuran yang memiliki penyebaran yang sempurna. Prinsip pencampuran didasarkan pada peningkatan pengacakan dan distribusi dua atau lebih komponen yang mempunyai sifat yang berbeda. Derajat pencampuran dapat dikarakterisasi dari waktu yang dibutuhkan, keadaan produk atau bahkan jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk melakukan pencampuran. Salah satu alat pencampuran yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah mixer Robot-coupe. Alat ini digunakan untuk proses pencampuran dalam pembuatan kue bolu. Robot-coupe ini biasanya digunakan dalam proses mixing bahan-bahan makanan dalam skala besar. Derajat keseragaman pencampuran, dalam diukur dari sample yang diambil selama pencampuran, dalam hal ini jika komponen yang dicampur telah terdistribusi mealui komponen lain secara random (acak), maka dikatakan pencampuran telah berlangsung dengan baik.

Menurut Mc Cabe et al (1985), pencampuran dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
(1) pencampuran sebagai proses terminal sehingga hasilnya merupakan suatu bahan jadi yang siap pakai
(2) pencampuran merupakan proses pelengkap atau proses yang mempercepat proses lainnya seperti pemanasan, pendinginan atau reaksi kimia.

Pencampuran mempunyai tujuan untuk menggabungkan bahan menjadi suatu campuran yang sedapat mungkin memiliki kesamaan penyebaran yang sempurna. Jenis pencampuran bahan dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu :

1. Pencampuran bahan cair
- Mensuspensikan bahan/partikel padat
- Menggabungkan bahan-bahan cair yang dapat saling bercampur
- Mendispersikan gas dalam bentuk gelembung gas halus
- Mendispersikan bahan cair lalu juga tidak dapat beercampur
- Meningkatkan pindah panas antara bahan cair dan penukar panas
Dalam suatu proses pengadukan, beberapa tujuan diatas dapat dicapai secara sekaligus, contohnya pada proses hidrogenasi katalitis minyak

2. Pencampuran bahan bersifat viskos
Karakteristik bahan campuran meliputi viskositas tinggi, plastis dan berbentuk pasta.
Karakteristik proses pencampurannya
- Memerlukan gaya guntung (shear force) yang lebih besar
- Memerlukan energi spesifik juga lebih besar (sampai 1 KWH/Kg)
- Tidak ada aliran bahan menuju pengaduk
Peralatan pencampurannya meliputi change can mixers, kueadas dan mulla mixers.

3. Pencampuran bahan partikel padat
- Bahan padat dapat mengalir
- Prinsip hampir sama dengan pencampuran bahan viskous
- Membutuhkan tenaga yang lebih ringan atau kecil daripada pencampuran bahan pasta
- Tidak ada aliran bahan ke pengaduk dengan sendirinya
- Cara kerja : kocokan mekanik, angkat dan jatuh dan menggilinngkan bahan

Menurut Handoko (1992), alat pencampur dibedakan menjadi tiga macam yaitu :
(1) tipe alat pencampur dengan pengaduknya bergerak dan wadah diam
(2) tipe alat pencampur dengan pengaduknya diam dan wadahnya bergerak
(3) tipe alat pencampur dengan pengaduk yang sama-sama bergerak

Alat pencampur terdiri dari tempat untuk menampung bahan dan as stainless steel. As stainless steel yang bercabang tegak lurus berfungsi untuk mencampurkan bahan baku yang berputar akibat adanya puli penggerak. Batang-batang pengaduk tersebut akan memecah dan mengaduk bahan dengan meningkatkan pengacakan dan distribusi bahan, sehingga terjadi pencampuran. Campuran tersebut akan membentuk adonan yang kompak dan uniform. Sumber tenaga yang menyebabkan wadah dan impeler berputar berasal dari motor penggerak yang ditransmisikan secara langsung menggunakan as besi (Handoko, 1992).

makalah teh

Posted: by Hazirur Rohman in Label:
1


Tugas Mata Kuliah
Manajemen Lingkungan Industri

INDUSTRI TEH

Disusun Oleh:
Kelompok 2
Nur Rahmawati F34080004
Fika Aras Ardita F34080016
Hazirur Rohman F34080024
Ade Teguh Rahmat F34080045
Dyah Ayu Larasati F34080054
Amina Kurniasi Alu F34080142

I. PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Seperti yang telah diketahui, kehidupan masyarakat tidak pernah terlepas dari industri. Di mulai dari kebutuhan makanan, pakaian, dan tempat tinggalnya. Industri merupakan bentuk dari pengelolaan sumber daya. Tetapi jika pengeloaan tersebut tidak dikontrol dengan baik, maka akan berdampak negatif bagi manusia dan lingkungan.
Kegiatan industri merupakan serangkaian kegiatan utuh yang dimulai dari pemilihan bahan baku industri. Pemilihan bahan baku sangat diperlukan karena bahan baku akan menentukan produk akhir yang akan dihasilkan. Setelah kegiatan pemilihan bahan baku kegiatan selanjutnya yaitu proses pembuatannya. Proses pembuatan memerlukan teknologi yang tepat dan sebisa mungkin meminimalkan limbah. Produk yang dihasilkan dari proses produksi bisa berupa produk setengah jadi dan produk jadi. Dari satu jenis bahan baku, banyak yang bisa dihasilkan termasuk dari produk turunannya.
Proses produksi dari kegiatan industri pasti tidak pernah terlepas dari yang namanya limbah, baik limbah cair, padat, maupun gas. Limbah tersebut dihasilkan dari tahapan dalam proses produksi. Tiap tahapan menghasilkan limbah dengan kuantitas yang berbeda-beda yaitu baik jumlah maupun volumenya. Jika limbah dari industri tersebut tidak dikelola dengan baik pasti akan berbahaya bagi lingkungan di sekitarnya, maka dari itu penerapan teknik pengelolaan limbah pada kegiatan industri sangat diperlukan.
Pada makalah ini akan diuraikan semua tentang kegiatan industri teh mulai dari kegiatan pemilihan bahan baku teh hingga pengolahan limbah industri teh yang tepat untuk diterapkan.

B. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui uraian lengkap tentang industri teh yang meliputi bahan baku, teknologi proses, dan produk jadi yang dihasilkan. Selain itu juga untuk mengetahui jenis limbah yang dihasilkan dan teknologi pengelolaan limbah yang diterapkan.

II. URAIAN LENGKAP

a. Bahan Baku Produk

Teh adalah minuman yang mengandung kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas. Teh merupakan sumber alami kafein, teofilin dan antioksidan dengan kadar lemak, karbohidrat atau protein mendekati nol persen. Teh bila diminum terasa sedikit pahit yang merupakan kenikmatan tersendiri dari the (Prasojo,2008).
Teh diperoleh dari pengolahan daun tanaman teh (Camellia Sinensis L) dari familia Tehaceae. Tanaman teh diperkirakan berasal dari daerah pegunungan Himalaya dan daerah-daerah yang berbatasan dengan Republik Rakyat China, India, dan Myanmar. Tanaman teh cocok tumbuh di daerah tropis dan subtropis dengan membutuhkan sinar matahari yang cukup dan hujan sepanjang tahun (Anonim, 2008).
Baik teh hitam, teh hijau maupun teh oolong dan teh pouchong dapat diolah dari bahan baku yang sama yaitu daun teh atau Camellia sinensis. Berdasarkan varietasnya Camellia sinensis dibagi menjadi dua yaitu Camellia sinensis varietas Assamica dan Camellia sinensis varietas sinensis. Di Indonesia, sebagian besar tanamannya berupa Camellia sinensis varietas Assamica. Salah satu kelebihan dari varietas Assamica ini adalah kandungan polifenolnya yang tinggi. Sehingga sangatlah beralasan bila teh Indonesia lebih berpotensi dalah hal kesehatan dibandingkan teh Jepang maupun teh China yang mengandalkan varietas Sinensis sebagai bahan bakunya (Prasojo, 2008).
Pada makalah ini akan membahas mengenai industri teh. Berdasarkan uraian di atas bahan baku industri teh di Indonesia adalah daun teh atau Camellia sinensis dengan varietas Assamica yang memiliki kandungan polifenol tinggi (Anonim, 2008).

b. Teknologi Proses Pengolahan Teh
1. Proses Pengolahan Teh Hitam
Secara umum, pengolahan teh hitam di Indonesia dapat dikategorikan dalam dua sistem, yaitu sistem Orthodox dan sistem baru seperti CTC (Crushing-Tearing-Curling) dan LTP (Lowrie Tea Processor). Meski sistem yang digunakan berbeda, secara prinsip proses pengolahannya tidaklah jauh berbeda.

Pelayuan
Tahap pertama pada proses pengolahan teh hitam adalah pelayuan. Selama proses pelayuan, daun teh akan mengalami dua perubahan yaitu perubahan senyawa-senyawa kimia yang terdapat dalam daun serta menurunnya kandungan air sehingga daun teh menjadi lemas. Proses ini dilakukan pada alat Witehring Trough selama 14-18 jam tergantung kondisi pabrik yang bersangkutan. Hasil pelayuan yang baik ditandai dengan pucuk layu yang berwarna hijau kekuningan, tidak mengering, tangkai muda menjadi lentur, bila digenggam terasa lembut dan bila dilemparkan tidak akan buyar serta timbul aroma yang khas seperti buah masak (Jaka,2008).
Penggilingan dan Oksimatis Secara kimia
Selama proses pengilingan merupakan proses awal terjadinya oksimatis yaitu bertemunya polifenol dan enzim polifenol oksidase dengan bantuan oksigen. Penggilingan akan mengakibatkan memar dan dinding sel pada daun teh menjadi rusak. Cairan sel akan keluar dipermukaan daun secara rata. Proses ini merupakan dasar terbentuknya mutu teh. Selama proses ini berlangsung, katekin akan diubah menjadi tehaflavin dan teharubigin yang merupakan komponen penting baik terhadap warna, rasa maupun aroma seduhan teh hitam. Proses ini biasanya berlangsung selama 90-120 menit tergantung kondisi dan program giling pabrik yang bersangkutan. Mesin yang biasa digunakan dalam proses penggilingan ini dapat berupa Open Top Roller (OTR), Rotorvane dan Press Cup Roller (PCR) : untuk teh hitam orthodox dan Mesin Crushing Tearing and Curling (CTC) : untuk teh hitam CTC (Jaka,2008).

Pengeringan
Proses ini bertujuan untuk menghentikan proses oksimatis pada saat seluruh komponen kimia penting dalam daun teh telah secara optimal terbentuk. Proses ini menyebabkan kadar air daun teh turun menjadi 2,5-4%. Keadaan ini dapat memudahkan proses penyimpanan dan transportasi. Mesin yang biasa digunakan dapat berupa ECP (Endless Chain Pressure) Dryer maupun FBD (Fluid Bed Dryer) pada suhu 90-95 0C selama 20-22 menit. Sebenarnya output dari proses ini sudah dapat dikatakan sebagai teh hitam meski masih memerlukan proses lebih lanjut untuk memisahkan dan mengklasifikasikan teh berdasarkan kualitasnya. Untuk itu diperlukan proses sortasi dan grading (Jaka,2008).

Sortasi and Grading
Sortasi bertujuan untuk memisahkan teh kering berdasarkan warna, ukuran dan berat. Sedangkan grading bertujuan untuk memisahkan teh berdasarkan standar mutu yang telah disepakati secara nasional maupun internasional.
Pengemasan

Teh yang telah disortasi dan digrading dimasukkan dalam peti miring yang selanjutnya dimasukkan ke dalam tea bulker untuk dilakukan pencampuran (blending). Proses ini untuk menghomogenkan produk teh dalam grade yang sama. Mengingat produk pertanian senantiasa mengalami fluktuasi kualitas, maka produk teh dari batch ke batch dari hari ke hari senantiasa berbeda. Untuk menghilangkan perbedaan tersebut dilakukanlah pencampuran.

2. Proses pengolahan teh hijau
Di antara ketiga jenis teh-teh fermentasi (teh hitam), teh semi fermentasi (teh oolong dan teh pouchong) serta teh tanpa fermentasi (teh hijau) - teh hijau boleh dinobatkan sebagai teh dengan potensi aktivitas kesehatan yang paling baik, karena katekin yang merupakan komponen bioaktif, selama pengolahan teh hijau dipertahankan jumlahnya dengan cara menginaktivasi enzim polifenol oksidasi baik melalui proses pelayuan maupun pemanasan. Pada proses pengolahan lainnya, katekin dioksidasi menjadi senyawa orthoquinon, bisflavanol, tehaflavin, dan teharubigin yang kemampuannya tidak sehebat katekin.
Pengolahan teh hijau Indonesia menganut serangkaian proses fisik dan mekanis tanpa atau sedikit mengalami proses oksimatis terhadap daun teh melalui sistem panning. Tahapan pengolahannya terdiri atas pelayuan, penggulungan, pengeringan, sortasi dan grading serta pengemasan (Jaka,2008).

Pelayuan
Berbeda dengan proses pengolahan teh hitam, pelayuan disini bertujuan menginaktifasi enzim polyphenol oksidase untuk menghindari terjadinya proses oksimatis. Akibat proses ini daun menjadi lentur dan mudah digulung. Pelayuan dilakukan dengan cara mengalirkan sejumlah daun teh kedalam mesin pelayuan Rotary Panner dlam keadaan panas (80-100°C) selama 2-4 menit secara kontinyu. Penilaian tingkat layu daun pada pengolahan teh hijau dinyatakan sebagai persentase layu, yaitu perbandingan daun pucuk layu terhadap daun basah yang dinyatakan dalam persen. Persentase layu yang ideal untuk proses pengolahan teh hijau adalah 60-70%. Tingkat layu yang baik ditandai dengan daun layu yang berwarna hijau cerah, lemas dan lembut serta mengeluarkan bau yang khas.

Penggulungan
Pada proses pengolahan teh hijau, penggulungan merupakan tahapan pengolahan yang bertujuan untuk membentuk mutu secara fisik. Selama proses penggulungan daun teh akan dibentuk menjadi gulungan kecil dan terjadi pemotongan. Proses ini dilakukan seger setelah daun layu keluar dari mesin pelayuan. Mesin penggulung yang biasa digunakan adalah Open Top Roller 26" tipe single action selama 15-17 menit.

Pengeringan
Pengeringan bertujuan untuk mereduksi kandungan air dalam daun hingga 3-4%. Untuk mencapai kadar air yang demikian rendahnya, pengeringan umumnya dilakukan dalam dua tahap. Pengeringan pertama bertujuan mereduksi kandungan air dan memekatkan cairan sel yang menempel pada permukaan daun. Hasil pengeringan pertama masih setengah kering dengan tingkat kekeringan (kering dibagi basah) sekira 30-35%. Mesin yang digunakan pada proses pengeringan pertama ini adalah ECP dengan suhu masuk 130-135°C dan suhu keluar 50-55°C dengan lama pengeringan sekira 25 menit. Disamping memperbaiki bentuk gulungan, pengeringan kedua bertujuan untuk mengeringan teh sampai kadar airnya menyentuh angka 3-4%. Mesin yang digunakan dalam proses ini biasanya berupa Rotary Dryer tipe repeat roll. Lama pengeringan berkisar antara 80-90 menit pada suhu dibawah 70°C.

Sortasi dan grading
Seperti halnya pada proses pengolahan teh hitam, proses ini bertujuan untuk memisahkan, memurnikan dan membentuk jenis mutu agar teh dapat diterima baik dipasaran lokal maupun ekspor.

3. Proses Pengolahan Teh Oolong
Posisi teh oolong berada diantara teh hijau dan teh hitam sehingga teh ini lazim disebut sebagai teh semi oksimatis. Teh jenis ini dilakukan oksimatis secara cepat sebelum dan sesudah penggulungan. Tahap pertama proses pengolahan teh ini adalah pelayuan dengan sinar matahari selama 90 menit. Selanjutnya dilakukan dengan pelayuan dan pengayakan dalam ruangan selama 4-8 jam. Pengeringan pertama dilakukan dengan panning system untuk menginaktivasi enzim. Kemudian di gulung selama 5-12 menit, dipotong dan kembali dikeringkan sampai diperoleh kadar air sekitar 3-5% (Jaka,2008).

4. Proses Pengolahan Teh Wangi
Teh wangi diproses dari teh hijau yang dicampur dengan bahan pewangi berupa bunga melati atau culan melalui pengolahan tertentu untuk mendapatkan cita rasa yang khas. Meski sentra teh wangi banyak terdapat di Jawa Tengah seperti Pekalongan, Tegal, Surakarta sampai Yogyakarta, namun bahan bakunya yang berupa teh hijau disuplai dari Jawa Barat yang merupakan "provinsi teh" di Indonesia.
Prinsip pengolahan teh wangi adalah proses penyerapan atau absorbsi aroma bunga ke dalam teh hijau. Tahapan proses pengolahan teh wangi meliputi penyediaan bahan baku berupa teh hijau, penggosongan, pemilihan bunga, pelembaban, pewangian dan pengeringan serta pengepakan (Jaka,2008).

Penyediaan Bahan Baku
Syarat teh hijau yang baik untuk proses pengolahan teh wangi diantaranya adalah mempunyai warna hijau kehitaman yang hidup (bright), bentuk tergulung dengan baik, rasanya sepet, mudah menyerap bau bunga dan kandungan airnya maksimal 10%.

Penggosongan
Proses ini bertujuan menghasilkan teh hijau gosong yang bersifat porous. Dengan sifat barunya ini, teh hijau akan mudah menyerap aroma dari melati. Proses ini berlangsung selama 1-2 jam menggunakan Rotary Dryer pada suhu 150-170°C.

Pemilihan Bunga
Bunga yang dipersyaratkan adalah melati dengan tingkat kematangan tertentu dan diperkirakan pada malam harinya akan tetap mekar.

Pelembaban
Pelembaban dilakukan melalui pemberian air pada teh gosong sampai keadaan teh menjadi lembab dengan kadar air 30-35%. Proses ini menyebabkan gulungan teh menjadi terbuka. Dengan demikian kemampuan teh dalam menyerap aroma bunga menjadi lebih baik. Proses ini biasanya berlansung pada sore hari sebelum proses pewangian dilakukan.

Pewangian
Proses ini merupakan nyawa dari pengolahan teh wangi. Pada tahap ini terjadi penyerapan aroma bunga oleh teh hijau yang telah digosongkan. Cara yang lazim digunakan adalah dengan cara mencampur dan mengaduk bunga dengan teh. Proses ini dilakukan pada malam hari. Alasan inilah yang menyebabkan mengapa bunga yang dipilih adalah bunga yang pada malam hari masih dapat mekar dengan baik.

Pengeringan dan Pengepakan
Setelah proses pewangian selesai, sisa-sisa bunga dipisahkan dari tehnya. Namun demikian, sebagian pabrik masih memanfaatkan keberadaan bunga ini untuk memberi jaminan kewangian teh tersebut. Selanjutnya, teh dikeringkan pada ECP dengan suhu masuk 100-110°C dan suhu keluar 50-55°C selama 30 menit sampai diperoleh kadar air sekitar 4%. Setelah proses pengeringan selesai, teh yang sudah wangi diangin-anginkan sampai dingin untuk dilakukan proses selanjutnya yaitu pengepakan.

c. Produk
Produk yang dihasilkan oleh industri teh antara lain teh hitam, teh hijau, teh oolong, teh wangi. Selain itu terdapat produk sampingan seperti pupuk organik.
Tanaman teh dapat diolah menjadi produk lain seperti yang tergambar pada Pohon Industri Teh di bawah ini:

d. Limbah
Limbah adalah buangan yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungannya karena tidak mempunyai nilai ekonomi. Sesuai dengan sifatnya, limbah digolongkan menjadi 3 bagian, yaitu: limbah cair, limbah gas/asap dan limbah padat. Ada industri tertentu menghasilkan limbah cair dan limbah padat yang sukar dibedakan. Ada beberapa hal yang sering keliru mengidentifikasi limbah cair, yaitu buangan air yang berasal dari pendinginan. Sebuah pabrik membutuhkan air untuk pendinginan mesin, lalu memanfaatkan air sungai yang sudah tercemar disebabkan oleh sektor lain. Karena kebutuhan air hanya untuk pendinginan dan tidak untuk lain-lain, tidaklah tepat bila air yang sudah tercemar itu dikatakan bersumber dari pabrik tersebut. Pabrik hanya menggunakan air yang sudah air yang sudah tercemar pabrik harus selalu dilakukan pada berbagai tempat dengan waktu berbeda agar sampel yang diteliti benar-benar menunjukkan keadaan sebenarnya (Sulaiman, 2005).
Limbah padat adalah hasil buangan industri berupa padatan, lumpur, bubur yang berasal dari sisa proses pengolahan. Limbah ini dapat dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu limbah padat yaitu dapat didaur ulang, seperti plastik, tekstil, potongan logam dan kedua limbah padat yang tidak punya nilai ekonomis.
Bagi limbah padat yang tidak punya nilai ekonomis dapat ditangani dengan berbagai cara antara lain ditimbun pada suatu tempat, diolah kembali kemudian dibuang dan dibakar (Anonim,2009).
Limbah gas/asap adalah limbah yang memanfaatkan udara sebagai media. Pabrik mengeluarkan gas, asap, partikel, debu melalui udara, dibantu angin memberikan jangkauan pencemaran yang cukup luas. Gas, asap dan lain-lain berakumulasi/bercampur dengan udara basah mengakibatkan partikel tambah berat dan malam hari turun bersama embun (Sulaiman, 2005).
Pada dasarnya limbah proses pengolahan teh tidak terlalu berbahaya bagi lingkungan. Limbah yang dihasilkan industri teh antara lain (Anonim,2009). :
1. Limbah padat
Limbah padat dari proses pengolahan teh berupa bubuk-bubuk teh yang jatuh ke lantai.
2. Limbah cair
Limbah cair hanya dihasilkan dari oli maupun bahan bakar yang tercecer.
3. Limbah gas
Limbah gas dihasilkan dari pembakaran boiler ataupun alat pengering.

e. Teknologi Pengelolaan Limbah
Pada bagian ini diambil contoh salah satu industri teh yang melakukan pengelolaan limbah yaitu Perkebunan teh Gunung Mas yaitu salah satu perkebunan yang merupakan bagian dari PT Perkebunan Nusantara VIII yang berkantor pusat di Bandung. Perkebunan ini mengolah teh dengan sistem CTC (Crushing Curling Tearing). Untuk menjamin produknya aman dan bebas kontaminasi, perusahaan teh gunung mas ini melakukan sanitasi dan juga pengelolaan limbah.
Sanitasi
Sanitasi adalah pengendalian terhadap sesuatu yang ingin dijaga terhadap kemungkinan terjadinya kerusakan maupun pencemaran. Dalam proses pengolahan teh, sanitasi sangat penting untuk dilakukan demi menjaga kerusakan maupun tercemarnya produk the (Arifin, 2008).
Sanitasi Bahan Baku
Sanitasi bahan baku merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Hal ini dikarenakan pucuk teh sebagai baku adalah bahan utama yang akan diolah menjadi produk teh jadi. Apabila pucuk teh tidak mendapatkan perlakuan dan pengawasan khusus dari semua jenis kontaminan maupun kotoran, maka mutu produk yang dihasilkan tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu, bahaya yang ditimbulkan juga sangat merugikan konsumennya apabila teh yang bahan bakunya terkontaminasi sampai dikonsumsi.
Sanitasi terhadap pucuk teh sudah diawali dari pemetikan di kebun. Pemetikan pucuk teh hanya boleh dilakukan minimal 7 hari sejak penyemprotan hama yang terakhir dilakukan. Hal ini untuk menghindari kemungkinan masih adanya sisa-sisa bahan kimia yang menempel di daun teh. Kemudian pucuk teh yang dipetik juga tidak boleh terkena kotoran ketika dipetik, seperti jatuh ke tanah misalnya. Hal ini disebabkan oleh pengolahan pucuk teh yang sama sekali tidak dmelibatkan proses pencucuian terhadap pucuk teh yang akan diolah.
Sanitasi pucuk teh ketika berada dipabrik juga tidak kalah penting. Pucuk teh yang akan dilayukan tidak boleh jatuh keluar dari whitering trough selama proses pembeberan. Pucuk teh juga tidak boleh terkena bahan-bahan kimia seperti oli, solar, maupun minyak pelumas ketika diangkut menggunakan truk untuk menghindari adanya kontaminasi terhadap pucuk teh. (Arifin, 2008).
Sanitasi Peralatan, Mesin, dan Ruangan Pengolahan
Sanitasi terhadap peralatan, mesin, maupun ruangan pengolahan juga sangat penting untuk dilakukan. Peralatan, mesin, maupun ruangan yang bersentuhan langsung dengan bahan baku secara otomatis membutuhkan perhatian khusus agar tidak menimbulakan kontaminasi terhadap bahan baku yang akan diolah maupun produk teh yang dihasilkan.
Sanitasi peralatan dilakukan sejak pemetikan pucuk teh di kebun. Ambul/karangka maupun waring/kontiner yang digunakan sebagai tempat pucuk teh harus benar-benar bersih dari segala macam kontaminan maupun kotoran. Ambul/karangka maupun waring/kontiner ini harus dibersihkan setiap kali selesai dan setiap kali akan dipakai agar tidak ada kotoran yang bisa mengkontaminasi pucuk teh yang akan diolah.
Sanitasi terhadap mesin akan lebih banyak ditemukan di pabrik. Mesin-mesin yang baru selesai digunakan untuk melakukan pengolahan maupun ketika akan digunakan untuk pengolahan harus dibersihkan untuk menghilangkan kontaminan yang bisa menempel dibahan baku maupun produk teh jadi. Mesin-mesin harus dibersihkan dari oli, pelumas maupun kotoran-kotoran lainnya secara periodik setiap hari. Kotoran-kotoran disapu menggunakan sapu lidi seperti memberrsihkan sisa-sisa pucuk teh di whitering trough, menghembus dengan kompressor untuk menghilangkan debu di mesin-mesin sortasi, dan mencucinya untuk menghilangkan sisa-sisa bubuk teh yang difermentasi di mesin fermenting unit.
Sanitasi terhadap ruangan pengolahan dapat dilakukan dengan membersihkan ruangan yang digunakan untuk proses produksi secara periodik. Ruangan-ruangan diberi ventilasi agar sirkulasi udara bisa berjalan lancar, ruangan harus dibersikan dari debu maupun kotoran-kotoran lain secara periodik setiap hari. Dan khusus untuk ruangan fermentasi perlu dilakukan pengepelan setiap hari karena di ruangan ini proses produksi berlangsung dalam suasana lembab sehingga jika tidak di pel setiap akhir proses produksi bisa mengakibatkan tumbuhnya jamur maupun bakteri di ruang fermentasi ini (Arifin, 2008).
Sanitasi Karyawan dan Pengunjung
Sanitasi terhadap karyawan dan pengunjung yang masuk ke pabrik sangat penting untuk dilakukan sebab manusia adalah sumber kontaminan terbesar. Para karyawan dan pengunjung yang masuk ke pabrik diwajibkan memakai masker serta baju khusus beserta topinya, dan juga sepatu yang sudah disediakan. Pemakaian masker dimaksudkan agar bahan baku maupun produk yang dihasilkan tidak terkontaminasi oleh sumber kontaminan dari mulut karyawan maupun pengunjung ketika bercakap-cakap. Selain itu, dengan pemakaian masker ini kenyamanan karyawan dan pengunjung juga akan lebih terjamin sebab proses pengolahan teh menimbulkan bau yang cukup menusuk hidung.
Pemakaian baju dan topi seragam serta sepatu dimaksudkan agar teh yang sedang diolah tidak tercemar oleh karyawan maupun pengunjung. Dengan sifatnya yang higroskopis, bubuk teh yang ada di ruang pengeringan maupun di ruang sortasi akan sangat mudah menyerap parfum, maupun keringat yang ada pada karyawan maupun pengunjung. Oleh karena itu pemakaian satu set pakaian seragam ini akan mengurangi kemnugkinan tercemarnya produk teh oleh karyawan maupun pengunjung (Arifin, 2008).
Pengelolaan Limbah
Pengelolaan limbah yang dihasilkan sangat penting untuk dilakukan agar tidak mencemari lingkungan di sekitar pabrik walaupun pada dasarnya proses pengolahan teh tidak menimbulkan limbah yang terlalu berbahaya bagi lingkungan (Sulaiman, 2005).
Limbah Padat
Limbah padat dari proses pengolahan teh berupa bubuk-bubuk teh yang jatuh ke lantai tidaklah terlalu berbahaya. Penanganannya hanya perlu dilakukan dengan cara menyapunya kemudian memasukkannya ke dalam karung untuk selanjutnya dibuang atau dijadikan pupuk organik.
Limbah Cair
Limbah cair yang dihasilkan juga sangat kecil bahkan dapat dikatakan tidak ada sama sekali. Limbah cair hanya dihasilkan dari oli maupun bahan bakar yang tercecer yang bisa dibersihkan dengan mengelap atau mengepelnya.
Limbah Gas
Sedangkan limbah gas lebih mendapat perhatian dengan pengaturan letak cerobong asap yang tepat sehingga tidak terlalu dekat dengan tempat dimana karyawan beraktivitas sehingga tidak mengganggu sama sekali. Ditambah dengan adanya tanaman penyejuk membuat kondisi udara di gunung mas bisa tetap terjaga.

III. PEMBAHASAN

Industri teh merupakan industri yang berpotensi untuk berkembang di Indonesia dan kini jumlahnya cukup banyak. Industri tersebut juga menghasilkan limbah meskipun limbah tersebut tidak terlalu berbahaya bagi lingkungan, namun tetap harus diolah dan ditangani dengan benar.
Sebagai contoh pengolahan limbah yang dilakukan perkebunan teh Gunung Mas masih sangat sederhana, hanya dilakukan secara fisik yaitu limbah padat yang dihasilkan hanya disapu dan dimasukkan ke dalam karung untuk dibuat pupuk organik. Padahal sumber limbah padat yang hanya berupa bubuk-bubuk teh dapat diminimasi dengan proses pengolahan yang lebih baik.
Limbah cair yang dihasilkan pun hanya diolah dengan sangat sederhana yaitu oli yang tercecer hanya dilap, sedangkan limbah gas yang baru mendapat perhatian penting yaitu digunakan cerobong asap. Gas yang dikeluarkan dari proses pengurangan kadar air pada teh ini memang harus mendapat perhatian, agar tidak menimbulkan bahaya harus dikeluarkan melalui cerobong asap yang berstandar.
Pengelolaan limbah yang dilakukan sebenarnya sudah cukup baik, namun harus diperhatikan ketika volume limbah bertambah semakin banyak tidak cukup hanya disapu dan dimasukkan ke dalam karung harus dipikirkan cara yang lebih efektif dan efisien seperti dibuat pupuk organik, namun dapat diolah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis tinggi daun teh afkiran (karena tidak memenuhi standard) dan daun teh bekas pakai dikembangkan agar bisa digunakan untuk pembuatan barang-barang keperluan rumah tangga dan pribadi. Barang-barang tersebut, sesuai sifat daya serap daun teh, menyerap bau/aroma yang tidak enak di sekitarnya. Juga bersifat menebarkan aroma yang berguna untuk meredakan stres (terapi aroma). Untuk limbah padat perlu dibuat instalasi jika volume limbah yang dihasilkan semakin banyak dan untuk limbah gas dapat digunakan alat seperti cerobong asap yang memiliki kemampuan memfilter udara.
Di sisi lain perkebunan teh Gunung Mas ini, memiliki kelebihan dimana dilakukan sanitasi yang cukup baik baik dari bahan baku, alat, mesin, dan bahkan karyawan dan pengunjung.

IV. KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa industri teh merupakan industri yang berpotensi untuk berkembang di Indonesia. Bahan baku industri teh yang berupa daun teh mudah didapat di Indonesia. Pengolahan teh yang dilakukan secaara ringkas adalah pelayuan, penggulungan, pengeringan, sortasi dan grading, serta pengepakan untuk berbagai jenis teh lain proses tambahan dapat disesuaikan.
Produk yang dihasilkan dari industri teh antara lain teh hitam, teh hijau, teh oolong, dan teh wangi serta terddapat produk sampingan berupa pupuk organik yang diperoleh dari pengolahan limbah padat.
Pada industri teh limbah yang dihasilkan tidak terlalu berbahaya bagi lingkungan, namun tetap harus diolah dan ditangani. Limbah yang dihasilkan antara lain Limbah padat dari proses pengolahan teh berupa bubuk-bubuk teh yang jatuh ke lantai. Limbah cair hanya dihasilkan dari oli maupun bahan bakar yang tercecer. Limbah gas dihasilkan dari pembakaran boiler ataupun alat pengering.
Limbah diatas dikelola dengan cara yang sederhana untuk limbah padat dari proses pengolahan teh berupa bubuk-bubuk teh yang jatuh ke lantai tidaklah terlalu berbahaya. Penanganannya hanya perlu dilakukan dengan cara menyapunya kemudian memasukkannya ke dalam karung untuk selanjutnya dibuang atau dijadikan pupuk organik. Limbah cair hanya dihasilkan dari oli maupun bahan bakar yang tercecer yang bisa dibersihkan dengan mengelap atau mengepelnya. Sedangkan limbah gas lebih mendapat perhatian dengan pengaturan letak cerobong asap yang tepat sehingga tidak terlalu dekat dengan tempat dimana karyawan beraktivitas sehingga tidak mengganggu sama sekali. Ditambah dengan adanya tanaman penyejuk membuat kondisi udara di gunung mas bisa tetap terjaga.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Rumus Pemetikan Teh. http://19bee.blogspot.com/2007/12/rumus-pemetikan-teh.html. ( 28 April 2010).
Anonim.2009. Limbah Industri. “http://mengerjakantugas.blogspot-.com/2009-/0-4/limbah-industri.html”. ( 28 April 2010).
Arifin. 2008. Sanitasi dan Pengolahan Limbah Perusahaan Teh CTC Gunung Mas.“http://arifinds.wordpress.com/2008/08/20/%E2%80%9Csanitasi-da-n-engolahan-limbah-di-perusahaan-teh-ctc-gunung-mas%E2%80%9D-se-kilas-hasil-pkl/”. ( 28 April 2010).
Jaka.2008. Pengolahan Teh dan Pengelompokan. http://teh-hitam.blog-spot.com-/2007/07/pengolahan-teh-dan-pengelompokan.html. ( 28 April 2010).
Prasojo, eko. 2008. Budidaya Tanaman Teh. http://h0404055.wordpress.com-/2-010-/04/03/budidaya-tanaman-teh/. ( 28 April 2010).
Sulaiman, Dede. 2005. Pengelolaan Limbah Agroindustri. Djambatan, Jakarta.